Informasi Terkini

Berita & Acara

Kembali ke Berita
Hidup Perempuan Yang Melawan
News

06 October 2026, 07:07

Hidup Perempuan Yang Melawan

Banyak dari kita mengira dampak terbesar peristiwa 1965 hanyalah tumbangnya Soekarno, naiknya Soeharto, dan hancurnya PKI. Padahal, ada kerugian raksasa lain yang sengaja dihapus dari ingatan publik, yaitu hancurnya gerakan feminisme Indonesia. Sebelum tragedi itu, bangsa ini memiliki sejarah gerakan perempuan paling radikal di Asia Tenggara. Perempuan-perempuan tersebut berdiri tegak membela hak kaumnya dan menolak segala bentuk ketidakadilan yang selama ini diwajarkan. Gerakan tersebut dinamai Gerakan Wanita Indonesia atau GERWANI. Sejarawan Saskia Wieringa mencatat bahwa GERWANI pernah memiliki sekitar 1,5 juta anggota. Kelompok ini berada di garis depan dalam memimpin perlawanan terhadap poligami, menolak pernikahan anak, serta mendirikan 1.478 TK Melati yang berfokus pada pendidikan anak usia dini dan pemberantasan buta huruf secara gratis, disamping menyediakan 1.500 balai penitipan anak gratis. Perjuangan mereka sangat nyata dan manusiawi, namun kemanusiaan itu dikebiri secara total oleh rezim Orde Baru dengan cara yang paling tidak berperikemanusiaan. Lewat mitos "Tari Harum Bunga" dan propaganda media militer seperti Berita Yudha, serta film Pengkhianatan G30S/PKI yang wajib diputar dan ditonton selama puluhan tahun, mereka digambarkan secara kejam sebagai "perempuan iblis" yang menari telanjang, melakukan pesta seks, dan menyiksa para jenderal. Padahal, hasil otopsi resmi membuktikan tidak ada mutilasi. Fitnah jahat ini diciptakan sebagai dalih untuk memburu dan menghancurkan mereka. Sebagaimana dituturkan oleh anggota DPP GERWANI, Sudjinah, tarian telanjang tersebut nyatanya justru terjadi di Penjara Kodam Jaya dan Penjara Bukit Duri, di mana remaja-remaja perempuan ditangkap dan ditelanjangi secara paksa oleh militer untuk dipotret dan dijadikan bahan berita propaganda. Dalam buku Women, Sexual Violence and the Indonesian Killings of 1965-66, Dr. Annie Pohlman menguraikan bagaimana kekerasan seksual dijadikan sebagai senjata politik. Berdasarkan kesaksian para korban, anggota GERWANI ditelanjangi saat interogasi, mengalami penyiksaan fisik, dan menjadi korban pemerkosaan massal tanpa pernah diproses melalui jalur hukum atau pengadilan. Kesaksian para penyintas menegaskan bahwa nama mereka difitnah dan tubuh mereka dijadikan alat untuk menghancurkan gerakan perempuan serta menakut-nakuti seluruh perempuan agar tunduk, meninggalkan trauma kolektif yang mendalam hingga kini. Kita tidak acak dan asal begitu saja mengucap Hidup Perempuan Yang Melawan, karena memang begitu tidak beradab dan ter pandangannya hak dan martabat perempuan di depan mereka yang merasa kekuasaan adalah milik dan ada di tangannya. Tidak seluruhnya berani mati untuk melawan, tapi tidak ada satupun perempuan, manusia yang ingin tertindas selama hidupnya. Keadilan adalah semu di depan sejarah palsu, maka dari itu tugas kita lah untuk bisa melihat sejarah dengan sebenar-benarnya. Publikasikan dengan baik, ceritakan dengan api semangat yang—bahkan jika sejarah itu diubah sekalipun demi terjalankannya bisnis kertas seorang presiden yang mandek karena dia nyalon tapi gagal terus itu—tidak pernah sekalipun api itu akan mati. Dengan api itu kita akan tetap bisa berdiri dan berteriak, ketika pun tidak, kita akan terus berbisik agar tidak hilang mereka yang dihilangkan, agar tidak mati mereka yang dimatikan, sampai memang ketika saatnya tiba, semua akan baik. Penulis: Ahmad Rizky