Informasi Terkini

Berita & Acara

Kembali ke Berita
Irelevansi organisasi mahasiswa
News

22 September 2026, 13:11

Irelevansi organisasi mahasiswa

Rasanya sudah semakin menjijikan akhir-akhir ini atau malah sudah dinormalisasikan bahwa ada sebuah “Berhala” baru yang selalu menempel pada tiap poster-poster yang disandingkan pada tiap kegiatan acara seolah-olah terpasangnya mereka dalam tiap poster memberikan sebuah dampak yang berarti dari sebuah kegiatan itu sendiri. Penokohan dengan memasang muka seorang pimpinan pada poster-poster kegiatan seperti gigi mundur dari sebuah era. Dari era yang dahulu para pemimpin yang menjadi pusat sebuah kegiatan dianggap seperti ratu adil ataupun “manifestasi dewa dimuka bumi” sudah pernah ada tokoh seperti demikian di Indonesia pra-kemerdekaan tokoh seperti Pangeran diponegoro, tuanku imam bonjol, Cut nyak dien, dan tokoh-tokoh perlawanan lokal yang memiliki konsep yang sama saat pemimpinnya tertangkap habis sudah perlawannya. Konsep itu dievaluasi dan dikritik habis pasca hari kebangkitan nasional. Pemuda-pemuda sudah tidak lagi menjadikan satu atau dua tokoh menjadi “pusat” dari perlawanan. Hal ini dibuktikan ketika soekarno ditangkap oleh Belanda di agresi militer belanda II. perlawanan tidak berakhir dibangunnya pemerintahan darurat di bukittinggi oleh Syafruddin Prawiranegara ataupun serangan umum satu maret yang dipimpin panglima besar soedirman. Bukan hasil inisiasi satu dua orang saja. Perjuangan asimetris adalah pelajaran sejarah yang seharusnya dipelajari sampai ke setiap sendi masyarakat Indonesia. Tapi semangat itu seperti dirusak secara sistematis dan terstruktur dari pihak-pihak yang seharusnya menjaga tradisi meritokrasi dan demokrasi itu. Pemimpin organisasi mahasiswa hari ini digambarkan oleh seperti tokoh yang sangat sentral dalam bergeraknya roda organisasi dengan memberikan kursi istimewa, memberikan perlakuan istimewa, hal-hal yang sangat jauh dengan DNA perlawanan Indonesia karena ketika kita mengatakan sebuah organisasi itu bernafaskan pengkaderan maka sudah wajib lah pemimpin bukan sebagai tokoh sentral. Organisasi harus memiliki sistem yang setidak-tidaknya jika sebuah pimpinan itu mundur ataupun berhalangan harus ada sistem yang menggantikannya sebelum bangku ketua umum itu mendingin, tapi hari ini kita melihat sebaliknya banyak tokoh yang dieluk-eluk seolah mereka baru saja bertemu malaikat dan mendapatkan wahyu untuk menjadi tokoh yang harus dielukan. Padahal bahkan jika dia seorang pejabat dia masihlah sama dengan warga sipil lainnya tidak ada pembeda dihadapan hukum dan sangat tidak layak untuk mendapatkan perlakuan khusus. Akhir-akhir ini terdapat sebuah trend bagi banyak mahasiswa untuk berhenti tergabung pada organisasi kemahasiswaan. Kegelisahan mahasiswa baru pun tergambar dalam era disrupsi sekarang apakah masih relevan untuk bergabung dalam organisasi mahasiswa hari ini, tergambar dalam banyak perusahaan banyak yang menjauhi calon karyawan yang pernah tergabung pada organisasi mahasiswa khususnya yang tergabung dalam organisasi yang sangat dekat dengan kekuasaan atau politik. Bagi saya menjadi kabur saat mahasiswa berteriak soal perubahan ataupun keadilan masyarakat tapi dalam waktu yang sama banyak petinggi organisasinya malah sangat dekat dengan “sumber penderitaan rakyat” itu sendiri. Sudah menjadi sebuah hukum alam bahwa akan selalu ada generasi yang bertanya atas status quo, mereka adalah orang-orang yang akrab disebut “aktivis”. Sikap memberontak dan selalu bertanya adalah sebuah sikap yang sangat normal bagi sebuah generasi dan dahulu sifat inilah yang diwadahi oleh organisasi mahasiswa. Tapi hari ini berbanding terbalik kita sangat mudah melihat petinggi-petinggi mahasiswa yang sangat dekat kekuasaan lewat audiensi, diskusi, dan lainnya. Kegiatan kolaborasi ini terkesan baik tapi mari kupas mendalam. Seorang penulis dan aktivis kulit hitam Audre Lorde pernah menulis “the master tools will never dismantle the master house” seperti tamparan keras bahwa mereka yang hidup menjadi alat negara tidak akan pernah menjadi pihak yang melakukan kritik pada negara. Logika ini terdengar masuk akal dan juga sangat amat relevan bagi generasi sekarang. Jika kita melihat organisasi mahasiswa hari ini khususnya seperti organisasi seperti cipayung tidak ada yang benar-benar bersuara untuk menghantam pemerintah mereka seperti melakukan aksi simbolis dan tidak benar-benar melakukan pukulan yang progresif. Bagi saya pukulan ini menjadi sangat telak saat kita menyadari organisasi yang seharusnya menjadi wadah untuk berkembang dan mengorganisir diri berubah menjadi tempat perpanjangan kekuasaan. Jika kita bicara bahwa lebih banyak organisasi yang lahir menjadikan organisasi menjadi mulai ditinggalkan mari kita muhasabahkan diri. Jika memang logika itu benar berapa banyak ruang-ruang alternatif yang malah subur di tengah menurunnya minat mahasiswa pada sistem organisasi yang kaku dan terbelakang? Seseorang yang purna dalam menyelesaikan pengkaderan apakah bisa benar-benar terjun ke masyarakat menjadi sangat elite untuk melakukan langkah-langkah nyata dan konkrit. Jika mahasiswa sudah meninggalkan organisasi kemahasiswaan hari ini maka pernyataan utamanya bukan terletak kemana mental generasi pemuda hari ini tapi kemana organisasi mahasiswa saat melihat penurunan populasi, kesenjangan rakyat semakin tinggi, kemiskinan struktural di wilayah urban, akses pendidikan dan kesehatan yang sulit di wilayah 3T. Penulis:Archduke