Informasi Terkini

Berita & Acara

Kembali ke Berita
Belajar dari Duka: Saat empati lebih penting dari penghakiman

27 July 2026, 12:16

Belajar dari Duka: Saat empati lebih penting dari penghakiman

Ini bukan sekadar tragedi, ini ujian bagi nurani kita sebagai masyarakat. Berawal dari dugaan pencurian oleh KD, sebuah peristiwa yang seharusnya diselesaikan melalui proses hukum, justru berujung pada hilangnya nyawa. Kini, yang tersisa bukan hanya perdebatan benar atau salah, tetapi duka yang nyata di sebuah rumah dimana tempat seorang anak menangisi ayahnya yang telah terbujur kaku. Di rumah duka itu, tidak ada lagi ruang untuk penghakiman. Yang ada hanya kehilangan. Seorang istri yang harus menerima kenyataan pahit. Anak-anak yang tumbuh dengan luka yang tidak kasat mata. Dan di tengah situasi itu, kita dihadapkan pada pilihan: apakah kita ikut merawat luka, atau justru memperdalamnya? Sayangnya, yang kerap terjadi justru sebaliknya. Video kekerasan disebarluaskan. Detik-detik tragis diulang, dibagikan, dikomentari, seolah itu sekadar konsumsi publik. Tanpa disadari, setiap kali video itu diputar ulang, luka keluarga korban ikut dibuka kembali. Duka yang seharusnya dihormati, justru menjadi tontonan. Di sinilah empati diuji. Terlepas dari dugaan kesalahan yang dilakukan oleh korban yang tetap harus dipertanggungjawabkan secara hukum, namun tidak ada satu pun tindakan yang membenarkan hilangnya nyawa secara brutal. Hukum ada untuk menilai dan memutuskan. Bukan untuk digantikan oleh amarah. Dalam kerangka Tri Hita Karana, hubungan antar manusia adalah fondasi utama harmoni. Artinya, bahkan dalam konflik sekalipun, kemanusiaan tidak boleh ditanggalkan. Ketika seseorang jatuh dalam kesalahan, respons kita seharusnya tetap berada dalam koridor nilai-nilai luhur, bukan keluar darinya. Maka hari ini, yang dibutuhkan bukan lagi opini yang memperkeruh, melainkan sikap yang menenangkan. Berhenti menyebarkan video kekerasan. Berhenti menjadikan tragedi sebagai tontonan. Berikan ruang bagi keluarga untuk berduka dengan tenang. Di saat yang sama, perhatian publik seharusnya diarahkan pada hal yang lebih substansial: mendorong aparat penegak hukum untuk bekerja secara serius, adil, dan transparan. Kasus ini tidak boleh berhenti pada korban saja. Harus ada pertanggungjawaban yang jelas, agar keadilan benar-benar ditegakkan yang bukan hanya dirasakan oleh satu pihak, tetapi oleh semua. Empati kepada keluarga korban bukan berarti membenarkan kesalahan yang dituduhkan. Empati adalah tentang menjaga kemanusiaan tetap hidup, bahkan ketika kita dihadapkan pada situasi yang paling sulit sekalipun. Karena jika kita kehilangan empati, maka yang runtuh bukan hanya satu kehidupan, tetapi nilai dasar yang menjaga kita tetap sebagai manusia. Hari ini, pilihan itu ada di tangan kita: menjadi bagian dari kerumunan yang menyebarkan luka, atau menjadi bagian dari masyarakat yang memulihkan keadaan. Dan harmoni itu seperti dalam Tri Hita Karana, hanya bisa terjaga jika kita memilih untuk tetap manusiawi. Penulis: Gde Bayu Pangestu AW,S.E Waketum PP KMHDI